Larangan Bid’ah dan Mengikuti Hawa Nafsu

Larangan Bid’ah dan Mengikuti Hawa Nafsu

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Takutlah kamu terhadap hal-hal yang dibuat baru, karena sesungguhnya setiap perbuatan yang baru adalah bid’ah, setiap bid’ah adalah sesat, setiap yang sesat adalah di neraka.”

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa yang membuat baru dalam perkaraku ini (islam), apa yang sebenarnya bukan daripadanya, maka dia adalah ditolak.”

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Hendaklah kamu memegang teguh dengan sunahku dan sunah (perjalanan) khulafaur Rasyidin sepeninggalku.”

Diketahui dari hadist-hadist ini, bahwa sesunggunya apa yang berbeda dengan Al-Kitab dan sunah serta ijma’ imam-imam, ia adalah bid’ah yang ditolak.

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa yang meletakkan sebuah tindakan yang baik, dia mendapat pahala dari tindakan itu dan pahala orang yang mengamalkan tindakan itu sampai hari kiamat. Dan barangsiapa yang meletakkan sebuah tindakan yang jahat, maka dia mendapat dosa dari tindakan itu dan dosa orang yang mengamalkan tindakan itu sampai hari kiamat.”

Qatada ra berkata mengenai firman Allah SWT: “Dan sesungguhnya (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia…” (QS.Al-An’am:153)

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya jalan itu, sebuah jalan yang satu kumpulannya (dasarnya), adalah petunjuk dan kesudahannya adalah surga. Dan sesungguhnya iblis membuat bid’ah beberapa jalan yang bercerai-berai, kumpulannya adalah kesesatan dan kesudahannya adalah neraka.”

Ibnu Mas’ud ra. berkata, ‘Rasulullah SAW. menggaris lagi di sebelah kanan garis pertama dan di sebelah kirinya. Kemudian bersabda, “Semua ini adalah cara-cara yang tidak ada sebuah cara dari semua itu, kecuali di sana mesti terdapat setan yang selalu mengajak untuk menempuhnya.” dan kemudian beliau membaca ayat ini. “

Dari Ibnu Abbas,Yang dimaksud cara-cara seperti ini adalah semua kesesatan.”

Ibnu ‘Athayah berkata, “Cara-cara ini mencakup cara-cara Yahudi, Nasrani, Majusi dan semua orang ahli agama yang lain dan ahli bid’ah serta kesesatan. Yaitu golongan orang yang mengikuti hawa nafsu, menyendiri (asing) dalam furu’ dan lain-lain. Yaitu golongan orang yang suka memperdalam perdebatan dan pembahasan dalam pembicaraan. Semua ini adalah mengarah kepada kesesatan dan menarik kemungkinan buruknya keyakinan.”

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa yang membenci sunahku maka dia tidak termasuk golonganku.”

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tiada sebuah umat pun yang membuat bid’ah setelah nabinya dengan sebuah bid’ah di dalam agamanya, kecuali dia telah menyia-nyiakan semisalnya dari sunah.”

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tiada Tuhan yang disembah di bawah naungan langit yang lebih besar di sisi Allah daripada hawa nafsu yang diperturutkan.”

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Adapun setelah itu, maka sesungguhnya sebaik-baik cerita adalah Kitab Allah dan sebaik-baik tindakan (perjalanan) adalah tindakan Nabi Muhammad SAW, sejahat-jahat perkara adalah yang dibuat baru dari perkara-perkara itu, setiap bid’ah adalah sesat, dan aku khawatir terhadap kamu mengenai kesenangan-kesenangan sesat dalam perut dan kemaluanmu dan yang menyesatkan dari kesenangan hawa nafsu. Hati-hatilah terhadap hal-hal yang dibuat baru, karena setiap yang dibuat baru adalah sesat.”

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah menghalangi tobat setiap pemilik bid’ah, hingga dia meninggalkan bid’ahnya.”

Nabi Muhammad SAW bersabda, Allah SWT tidak menerima dari pemilik bid’ah beberapa puasa, ibadah haji, umrah, jihad, tobat dan tidak pula tebusan. Dia keluar dari Islam seperti selembar rambut yang keluar dari tepung adukan untuk bahan roti. Aku tinggalkan kamu pada ajaran (perjalanan) seperti yang bersinar terang, malamnya seperti juga siangnya, tidak akan menyimpang darinya kecuali orang yang celaka. Setiap umrah memiliki syirrah (kegairahan) dan setiap syirrah memliki kekendoran. Barangsiapa yang syirrahnya kepada selain itu, maka dia benar-benar celaka. Sesungguhnya aku khawatir atas umatku dari tiga hal. Pertama, tergelincirnya orang alim, mengikuti hawa nafsu dan putusan hakim yang menyimpang.”

At-tirmidzi menyatakan ke-hasan-an hadist itu dalam beberapa tempat dan men-shahih-kannya dalam tempat yang lain. kata syirrah atau syarrah artinya kesemangatan dan bertujuan.

Alat Lahwi
Bukhari meriwayatkan, bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barangsiapa yang berkata pada kawannya, ‘Kemarilah kamu, kita bermain judi.’ maka hendaklah dia bersedekah.”

Muslim dan Dawud serta Ibnu Majah meriwayatkan, “Barangsiapa yang bermain dengan nardi (alat permainan) yang memiliki dua belas petak. permainan ini hanya didasarkan pada perkiraan dan menerka-nerka, yang mengajak orang kepada ketololan saja atau nardi syair (Syair nama seorang raja Fursi), maka seakan-akan dia telah membenamkan tangannya ke dalam daging dan darah babi hutan.”

Ahmad dan yang lain meriwayatkan, bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad SAW bersabda, “Perumpamaan orang yang bermain dengan nardi, kemudian shalat, adalah seperti orang mengambil wudhu dengan nanah dan darah babi hutan, kemudian shalat.” yakni shalat itu tidak diterima, sebagaimana dijelaskan oleh riwayat yang lain.

Al-Baihaqi meriwayatkan dari Yahya bin Katsir, dia berkata, Rasulullah SAW melewati sebuah kau yang sedang bermain nardi, beliau bersabda, “Hati-hati dengan lahwu (bermain-main), tangan-tangan yang sibuk bekerja, dan lidah-lidah yang laghwu (bersenda gurau, tidak mendapat kegunaan).”

Ad-Dailami meriwayatkan, bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad SAW bersabda, “Apabila kamu melewati mereka yang bermain dengan azlam ini, (mengundi nasib dengan mangkuk, sebuah mangkuk diisi dengan tulisan perintah dan sebuah lagi dengan tulisan berisi larangan. kalau dia mengambil kebetulan yang berisi perintah dia akan melaksanakan niatnya, kalau larangan dia akan bertahan) catur dan nardi dan apa saja yang termasuk jenis ini, yakni yang menyerupai setiap permainan yang diharamkan, maka janganlah kamu memberi salam kepada mereka. kalau mereka memberi salam kepadamu janganlah kamu menjawabnya.”

Nabi Muhammad SAW bersabda, “Tiga hal termasuk perjudian, yaitu qimar (judi), memukul beberapa ka’b (buah dadu atau mata dari permainan nardi) dan bunyi siulan merpati (digunakan tanda firasat).”

Ali ra. melewati sebuah kaum yang sedang bermain catur, dia berkat, “Apa patung-patung yang sedang kamu hadapi ini? Sungguh kalau seorang dari kamu menyentuhnya.” Kemudian dia berkata, “Demi Allah bukan untuk ini kamu diciptakan.” Dia (Ali ra) juga pernah berkata, “Pemain catur adalah paling banyak di antara manusia dalam kebohongannya.” berkata seorang dari mereka, “Aku telah membunuh (mematikan), tetapi dia tidak membunuh dan mati dia.” tetapi dia tidaklah mati.

Abu Musa Al-Asy’ari berkata, “Tidak akan bermain catur, kecuali orang yang bersalah (tidak mendapatkan kebenaran).”

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya alat-alat malahi itu adakalanya haram seperti gambus, tunbur (sebangsa biola), rebab, gendang, suling dan semua yang membuat lahwu dengan suara yang dapat membuat nikmat (bernyanyi). Atau makruh, yaitu apa saja lagu (nyanyian) akan bertambah nikmat dan tidak dapat membuat nikmat, seperti shanji (seperti kepingan yang ada di bingkai rabana) dan qashab (bambu), maka dia dimakruhkan kalau diiringi nyanyian, tidak kalau sendirian, atau yang diperbolehkan (mubah), yaitu yang keluar dari alat bernyanyi, yang membuat ketakutan seperti terompet dan genderang perang, atau untuk keperluan mengumpulkan dan mempermainkan seperti rebana dan nikah.

Demikianlah penjelasan tentang “Larangan Bid’ah dan Mengikuti Hawa Nafsu” nantikan kembali postingan kami berikutnya, jangan lupa tinggalkan pesan yaaaaaahhhh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares