Larangan Hidup Membujang dan Enggan Nikah

Larangan Hidup Membujang:
Islam melarang hidup membujang, yaitu enggan nikah dengan maksud untuk tekun ibadah, menjauhkan diri dari kesenangan dunia dan menghindarkan diri dari kewajiban mengasuh anak.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada rahbaniyyah (hidup membujang) dalam islam.”
Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu haramkan apa-apa yang baik yang telah Allah halalkan bagi kamu, dan janganlah kamu melewati batas. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
(QS.5,Al-Maidah:87)

Orang yang membujang, berbuat seperti rahib dan tidak mau nikah berarti mengharamkan apa yang dihalalkan Allah bagi dirinya.

Orang-orang yang hidup membujang berpegang pada hadits-hadits dha’if (lemah):
“Sebaik-baik kamu di masa 200 tahun mendatang (sejak masa nabi) adalah orang-orang yang ringan, tidak beristri dan tidak punya anak.”

“Bila tiba tahun 150, orang yang mengasuh anak anjing akan lebih baik daripada mengasuh anak.”
Orang-orang yang enggan nikah berpegang pada dua hadits di atas untuk hidup membujang. Dua hadits itu adalah maudhu‘ (palsu) yang tidak pernah disabdakan oleh Rasulullah SAW.

Ahli-ahli sufi berpegang kuat pada hadits-hadits di atas, karena mereka suka mengerjakan bid’ah, mengikuti hawa nafsunya. Mereka tidak dapat membedakan antara hadits shahih dengan hadits dha’if dan maudhu’. Mereka bukan ahli hadits.

Larangan hidup membujang dan enggan nikah
Larangan Hidup Membujang dan Enggan Nikah

Enggan Nikah:
Nikah adalah keharusan bagi manusia. Orang tidak dapat mengabaikan masalah nikah. Orang yang tidak mau nikah atau enggan nikah mungkin karena tidak dapat memenuhi nafkah istri, seperti makan sehari-hari, pakaian, tempat tinggal dan sebagainya atau mungkin juga karena lemah fisiknya atau karena sakit sehingga tidak dapat menunaikan kewajiban biologisnya atau karena sebab lain yang memaksanya menghindari nikah.
Apabila orang tidak nikah dengan sebab-sebab di atas tidaklah tercela tetapi enggan nikah dengan niat tidak baik, atau untuk mengelak dari tugas hidup dan tidak mau berketurunan, inilah yang tercela dan menyia-nyiakan hidupnya di dunia, sma dengan menentang fitrah Allah yang telah mensyariatkan perkawinan. Menjaga keturunan adalah termasuk qawa’idul khamsah, lima dasar tujuan agam yang diperintahkan Allah agar dijaga dan berbuat jahat adalah maksiat yang dilarang Allah dan diancam dengan berbagai macam siksa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares