Setiap Amalan Tergantung Pada Niatnya

Hendaknya kalian senantiasa bertakwa kepada Allah dan merealisasikan keimanan kalian dengan merealisasikan perintah Nabi SAW kepada kalian, karena kebahagiaan dunia dan akhirat tidak akan tercapai, kecuali dengan menjalankan semua perintah Allah dan semua perintah Rasul-Nya, serta mengikuti jejak dan jalan beliau SAW. Karena Islam adalah agama yang membawa rahmat, kasih sayang, persatuan, cinta damai dan setia kawan.

Diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim yang bersumber dari Umar Ibnul Khattab ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya setiap amal perbuatan terkait erat dengan niatnya dan setiap orang terkait erat dengan apa yang telah ia niatkan. Barangsiapa yang niatnya berhijrah karena Allah dan karena Rasul-Nya semata, maka niat hijrahnya akan sampai kepada Allah dan kepada Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang niat hijrahnya untuk mendapatkan harta atau untuk menikahi seorang wanita, maka niat hijrahnya akan sampai di batas yang ia niatkan itu.”

Para ulama berpendapat bahwa setiap amalan atau setiap perbuatan akan sempurna dengan beberapa persyaratan, yaitu dengan ilmu dan mengamalkan serta kesungguhan hati dan keinginannya untuk melakukan sesuatu. Yang pertama adalah kemauan, kemudian yang kedua adalah niat, yaitu hasrat di hati untuk melakukan sesuatu. Adapun sendi utama dari setiap pekerjaan adalah ilmu pengetahuan yang harus diketahui oleh setiap orang yang ingin berbuat sesuatu, agar perbuatannya benar menurut lahiriyahnya, kemudian disertai dengan kehendak untuk mengerjakan sesuatu, yaitu ingin mengerjakan sesuatu perbuatan atau mengapa ia ingin mengerjakan sesuatu. Kemudian hendaknya ia berniat, yaitu mempunyai kemauan untuk melakukan sesuatu secara benar dengan disertai suatu tujuan tertentu. Makan dengan cara itu segala perbuatan dapat dilakukan dengan baik.

Allah menyuruh Rasul-Nya untuk mendekati orang-orang yang selalu mempunyai niat yang baik, seperti yang disebutkan dalam firman Allah berikut ini:
“Dan janganlah kamu mengusir orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan petang hari, sedang mereka menghendaki keridhaan-Nya.”
(QS.Al-An’aam:52)
Selanjutnya Allah berfirman:
“Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-istri itu.”
(QS.An-Nisaa’:35)

Allah berjanji bahwa orang-orang yang mempunyai niat baik akan diberi pahala berlipat ganda, seperti yang disebutkan dalam firman Allah berikut:
“Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya)
(QS.Ar-Ruum:39)
Maksudnya, setiap orang dibolehkan melakukan berbagai perbuatan yang wajib, yang sunnah dan yang mubah, semuanya harus ia kerjakan hanya karena Allah semat a dan berharap ridha serta pahala dari Allah semata, bukan disertai dengan tujuan yang selain Allah, seperti ingin berbuat kebaikan karena ingin terkenal, karena ingin dipuji orang, karena ingin dihormati orang dan berbagai tujuan keduniaan yang lain, karena siapapun yang berbuat kebaikan karena selain Allah, maka perbuatan baik yang ia lakukan dinilai riya’ dan syirik yang tersembunyi, sehingga amalan dan pahalanya tidak akan diterima oleh Allah, bahkan Allah akan murka terhadap pelakunya.

Adapun niat di masa kaum salaf saleh merupakan salah satu cabang ilmu yang dipelajari dengan baik oleh setiap orang yang akan melakukan suatu perbuatan, seperti yang dikatakan oleh Sufyan Ats-Tsauri: “Dahulu kaum salaf saleh mempelajari setiap niat sebagaimana mereka mempelajari setiap perbuatan. Tetapi masalah ini menjadi diabaikan dan dilalaikan, sehingga perbuatan baik setiap orang menjadi kacau dan hilang kerohaniannya, karena setiap orang salah dalam niatnya sehingga mereka tidak mendapat kebaikan yang banyak, bahkan mereka mendapat marah dan murka Allah. Dewasa ini umat islam tidak mendapat kejujuran dalam amal kebajikan mereka yang ditujukan untuk Allah semata, karena mereka salah dalam niat mereka, sehingga merek tidak merasa bahwa amal kebajikan mereka tidak mendapat pahala apapun dari Allah seperti disebutkan dalam firman Allah berikut: “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siap yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagianpun di akhirat.” (QS.Asy-Syuura:20)

Setiap amalan tergantung pada niatnya
Setiap Amalan Tergantung Pada Niatnya

Di masa Rasulullah SAW, dahulu para sahabat selalu bertanya kepada beliau SAW tentang berbagai niat sampai mereka mengetahui dengan sungguh-sungguh, mana niat yang benar dan mana pula yang salah. Di antara mereka ada yang bertanya kepada beliau SAW tentang seorang yang berjuang id jalan Allah untuk di sebut sebagai seorang yang pemberani dan di antaranya pula ada seorang yang berjuang di jalan Allah untuk dikenal orang tentang keberaniannya. Tentang kedua pertanyaan itu Rasulullah SAW menjawab: “Siapapun yang berjuang demi untuk menegakkan agama Alah, maka ia termasuk seorang yang berjuang di jalan Allah.”
Itulah masalah jihad di jalan Allah, yaitu suatu perbuatan baik yang di dalamnya termasuk berjuang dengan kebijaksanaan, dengan tutur kata yang baik dan dengan hati. Tetapi setiap perbuatan yang tidak disertai karena Allah semata dan tidak ditujukan untuk menegakkan agama Allah atau kebenaran, maka perjuangan itu ditolak oleh Allah, bahkan pelakunya akan dimurkai oleh Allah. Selain itu Nabi SAW memberitahu bahwa ada tiga golongan yang akan dimasukkan ke dalam neraka lebih dulu, di antaranya seorang yang menujukan segala amal kebajikannya bukan untuk karena Allah semata, misalnya seorang yang diberi harta yang banyak, kemudian ia ditanya oleh Allah: “Untuk apakah harta yang Aku berikan kepadamu?”
Jawab orang itu, “Ya Allah, sesungguhnya aku menafkahkan harta yang Engkau berikan kepadaku untuk menegakkan kebenaran.”
Jawab Allah, “Kamu berdusta, bahkan kamu sengaja menafkahkan hartamu untuk disebut orang bahwa kamu adalah orang yang mulia dan pemurah dan kamu telah dikenal orang sebagai seorang yang mulia dan pemurah.”
Ada lagi seorang yang diberi pengetahuan oleh Allah. Kemudian di hari kiamat kelak Allah bertanya kepadanya: “Untuk apakah ilmu yang Aku berikan kepadamu?”
jawab orang itu, “Aku sebarkan ilmu yang Engkau berikan kepadaku hanya untuk karena-Mu.”
Jawab Allah, “Kamu telah berdusta, karena kamu menyebarkannya untuk dikenal bahwa kamu adalah seorang yang berilmu.”
Ada pula seorang yang berjuang di jalan Allah dan ia gugur di medan juangnya sebagai syahid, kemudian ia ditanya oleh Allah pada hari kiamat: “Untuk apakah kamu berjuang?”
Jawab orang itu, “Aku berjuang untuk membela agama-Mu.”
Jawab Allah, “Sungguh kamu telah berdusta, karena kamu ingin dikenal sebagai seorang pemberani dan kamu telah dikenal orang banyak sebagai pemberani.”
Itulah ketiga orang yang dimasukkan ke dalam api neraka lebih dulu.

Perlu diketahui bahwa niat karena Allah semata bukan hanya ditujukan untuk mengerjakan amal-amal yang fardhu atau amal-amal yang sunnah saja, bahkan niat yang baik harus ditujukan untuk amal-amal yang mubah yang dibolehkan mengerjakannya setiap saatnya, seperti mengkonsumsi makanan dan minuman, berpakaian dan mengendarai kendaraan. Perbuatan-perbuatan semacam itu dibolehkan oleh agama, tetapi jika tidak diniati karena allah semata, maka pelakunya akan mendapat murka dan siksa Allah.

Misalnya, seorang mengkonsumsi makan dan ia tidak berniat, kecuali untuk menghilangkan ras laparnya, maka perbuatan semacam itu akan sia-sia dan tidak akan diberi pahala oleh Allah, bahkan pelakunya akan mendapat siksa. Sebaliknya, jika ada seorang mengkonsumsi makanan dan ia mempunyai niat agar ia mampu berbuat maksiat, meskipun makanan yang dikonsumsinya itu halal tetapi niatnya yang tidak baik, maka ia akan dimurkai oleh Allah. Ada pula orang lain yang jika ia mengkonsumsi makanan, maka ia berniat agar ia diberi kekuatan untuk beribadah kepada Allah, maka niat dan perbuatannya akan diberi pahala oleh Allah. Adapun seorang yang memakai pakaian baru dengan niat untuk menyombongkan dirinya, maka pelakunya akan dimurkai dan disiksa oleh Allah. Tetapi jika seorang memakai pakaian baru untuk menunjukkan bahwa dirinya dikaruniai kemurahan Allah, maka pelakunya akan diberi pahala yang besar oleh Allah. Pokoknya mempunyai niat baik karena Allah semata, maka kelakuannya dan niatnya akan diridhai oleh Allah. Tetapi jika pelakunya tidak mempunyai niat yang baik karena Allah karena kebodohannya, maka pelakunya tidak akan mendapat pahala sedikitpun dari Allah, bahkan akan mendapat murka dari Allah. Tentunya seorang tidak akan mempunyai niat yang baik karena Allah semata, karena ia tidak mengetahui pengertian biat dan perilaku yang baik sedikitpun seperti yang diketahui oleh para sahabat dan tabi’in.

Banyak umat Islam yang tidak mendapat pahala dari amal-amal kebajikan mereka dari Allah, misalnya ada seorang mukmin pernah menolong sesama mukminnya dengan baik dan ia melakukannya hanya karena Allah semata, tetapi di kemudian hari ketika ia meminta tolong kepada orang yang pernah ia tolong itu dan ia tidak di tolongnya, permintaanya ditolak, maka ia menyebut-nyebut kembali kebaikan dirinya yang pernah ia berikan kepada saudaranya sesama mukmin di waktu lalu. Tentunya perbuatan semacam itu dapat membatalkan pahalanya dan amal kebajikannya yang terdahulu.

Contoh yang lain, ada seorang berilmu yang mengajak orang lain berbuat kebaikan dan ia melakukan perbuatan kebaikan itu karena Allah semata. Tetapi, dibelakang hari ada undang-undang Negara yang mengatur kedudukan setiap ulama menurut ilmunya masing-masing, sehingga ada yang ditempatkan di bawah dan ada pula ditempatkan yang lebih tinggi, sehingga ulama itu menjadi kecewa hatinya, karena ia tidak ditempatkan di tempat yang tinggi. Tentunya kekecewaan itu menjadikan amal kebajikannya tidak mendapat pahala dari Allah. Selain itu, ada pula contoh yang lain, misalnya ada seorang khatib yang mengajak orang lain ke jalan Allah karena Allah semata, tetapi ia kalah bicara oleh khatib yang lain, sehingga ia kecewa karenanya. Tentunya perbuatan semacam itu akan membatalkan niat baiknya karena Allah, karena ia telah kecewa kepada seorang khatib yang lebih fasih dan lebih mendapat kehormatan dari orang lain. Pokoknya setiap amal kebajikan yang niatnya tidak karena Allah semata, pasti amal kebajikannya akan ditolak oleh Allah.

Karena itu, wahai umat Islam, hendaknya kalian senantiasa takut kepada Allah dan pelajarilah cara berniat yang baik karena Allah semata, karena setiap amal kebajikan terkait erat dengan niat baiknya, agar setia amal kebajikan yang dikerjakan oleh seorang karena Allah tidak sia-sia di sisi Allah. Pokoknya setiap orang muslim harus mempelajari niat yang baik karena Allah semata, sehingga setiap amal kebajikannya ia lakukan karena Allah semata, tidak karena yang lain, agar segala amal kebajikannya mendapat pahala dan mendapat ridha Allah di sisi-Nya, karena setiap amal kebajikan yang tidak disertai dengan niat karena Allah semata, maka ia bagai pohon yang tidak berbuah atau bagai suatu badan yang tidak mempunyai ruh.

Itulah yang dapat kami sampaikan dalam kesempatan ini, semoga Allah memberi ampun bagi kita dan bagi seluruh kaum muslimin, karena Allah Maha Dekat, Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares